Institut Media Digital Emtek
Baca tips dan berita seputar perkuliahan untuk mendukung persiapan kuliahmu
Gandeng Perdibrofi d...
02 Apr 2026
Jakarta - Viral itu pakai mikir atau tidak? Algoritma itu mikir. Kreativitas juga mikir. Namun, kenyataan di lapangan, konten viral itu lebih banyak yang tidak mikir, atau seolah-olah tidak mikir. Ada memang konten viral yang tanpa mikir. Hanya mengandalkan faktor luck alias keberuntungan. Keberuntungan itu pasti ada, tetapi untuk kemunculannya, tidak ada yang tahu. Hanya Tuhan yang tahu.“Jadi, rumusnya agar mendapatkan keberuntungan adalah terus bekerja, terus berkarya, terus berkreasi. Nah, di sinilah kuncinya untuk berhasil menjadi viral,”ujar Rektor Institut Media Digital Emtek (IMDE) Totok Amin Soefijanto ketiakemmberikan sambutan pada acara webinar yang digelar IMDE bertema “Konten Viral : Algoritma atau Kreativitas?”, Jumat (17/01/2025)Webinar diselenggarakan oleh Program Studi Produksi Media bekerjasama dengan Perdibrofi dan Emtek Ex diprakarsai oleh Teguh Setiawan, Kaprodi Produksi Media sekaligus dosen mata kuliah Produksi Streaming ini diikuti 402 peserta, ditayang secara hybrid lintas platform yakni Zoom dan Youtube.Para pembicara webinar adalah Kristoforus Bagaskoro, General Manager, Social Media, Production & Business Emtek Ex. (Materi Tentang Algoritma), Muhamad Azmi Arif, Perdibrofi Korda Kalimatan Selatan & Content Creator (Materi Tentang Kreativitas), dan Aziz Kurnia (Content Creator, Bisnis Owner, Alumni IMDE 2018)Lebih lanjut RektorIMDE, Totok Amin Soefijantp mengatakan, ada pola tertentu yang terus berubah dari waktu ke waktu, sehingga pembuat konten akan merasakan dorongan kreativitas untuk memunculkan konten. Di sinilah algoritma memegang peranan penting.Di sisi lain, ada pakar yang menyarankan agar menghasilkan konten yang viral, dengan memanfaatkan sepenuhnya fasilitas yang ada dan daya pikir manusianya.”Jawabannya: semua benar, keduanya algoritma dan kreativitas penting,” katanya.Memang, lanjut Totok, kita butuh kebetulan untuk menghasilkan konten viral. Kebetulan yang menghargai perbedaan dan keunikan. Kebetulan yang berawal dari keringat dan air mata. Oleh sebab itu, semoga webinar ini dapat memberikan “kunci” jawaban atas ujian yang bernama konten viral ini.“IMDE atau Institut Media Digital EMTEK akan memberikan kunci jawaban atas masalah viral ini. Prodi D4 Produksi Media akan memberikan kunci jawaban kepada mahasiswa dan alumni untuk disebarluaskan. IMDE Pasti Bisa!,” ujar Totok.Konsistensi Membuat KontenGeneral Manager, Social Media, Production & Business Emtek Ex, Kristoforus Bagaskoro, menjelaskan, cara kerja algoritma adalah posting konten, kemudian akan disebarkan baik ke follower maupun non follower, kemudian akan ada pilihan apakah engage atau tidak, ketika konten itu engage maka akan didistribusikan kebanyak orang lagi yang pada akhirnya menjadi viral.Namun kenyataanya algoritma ini berubah terus dan tidak dapat kita terjemahkan, pada intinya yang dibaca oleh algoritma ini berupa banyak data poin diantaranya: minat, kebiasaan dan Preferensi. “Dengan ketidakpastian dan perubahan algoritma tersebut yang dapat dilakukan oleh Content Creator adalah konsistensi dalam membuat konten dan tentunya juga kualitas,” kata Bagaskoro.Sementara itu Perdibrofi Korda Kalimatan Selatan & Content Creator, Muhamad Azmi Arif mengatakan, tujuan orang membuat konten untuk personal branding, terkenal dan dikenal, peluang kolaborasi, berbagi pengetahuan, dan mengasah ketrampilan. Konten bisa viral memang dipengaruhi oleh dua hal, yakni algoritma dan kreativitas.“Algoritma berhubungan dengan relevansi konten, engagement rate seperti like, komen dan share, serta konsistensi konten. Sementara terkait kreativitas berhubungan dengan ide yang fresh, emosi audiens, dan visual yang menarik,” katanya.Azmi Arif lebih lanjut mengatakan, untuk membuat visual yang menarik dibutuhkan ketrampilan, saat ini konten kreator dimudahkan dengan berbagai aplikasi di smartphone. Untuk menjadi seorang konten kreator yang handal dibutuhkan beberapa ketrampilan yang harus dimiliki diantaranya: Copy Writing, Editing, komunikasi, ketrampilan videografi dan videografi, serta yang tak kalah penting kreativitas.Sedangkan Content Creator, Bisnis Owner, Alumni IMDE 2018, Aziz Kurnia mengatakan, algoritma dan kreativitas dua hal yang tidak dapat dipisahkan, keduanya sangat penting dalam membuat sebuah konten. Kreativitas bagus tapi tidak terdeteksi oleh algoritma tidak akan disebarluaskan, begitu juga sebaliknya kita hanya mengandalkan algoritma tanpa kreativitas konten tidak ada yang menonton.“Dibalik konten yang viral pasti ada strategi misalnya originalitas, teknik, ataupun perception engineering agar konten diterima. Menurut Aziz penggunaan peralatan (gear) yang bagus bukan syarat utama dalam membuat konten, yang terpenting adalah kreativitas,”ujar AzizProses belajar Aziz sebagai seorang content creator tidak terlepas dari pengalamannya belajar di kampus ATVI (sekarang IMDE), menurutnya semua ketrampilan dari praproduksi sampai pascaproduksi di ajarkan, sehingga menambah ketrampilan dalam membuat konten.Kaprodi Produksi Media IMDE, Teguh Setiawan mengatakan, mahasiswa Produksi Media diharapkan memiliki ketrampilan yang sangat dibutuhkan di era digital, salah satunya adalah kemampuan Produksi Streaming. Untuk itu mahasiswa juga dibekali dengan berbagai ketrampilan yang kelak dibutuhkan di dunia industry.Tujuan WebinarWebinar ini diadakan untuk menggali lebih dalam peran algoritma dan kreativitas dalam menciptakan konten viral, sekaligus membekali peserta dengan wawasan strategis untuk menghadapi dinamika dunia digital.Selain itu webinar ini juga mengenalkan cara belajar di Prodi Produksi Media, dimana sebagian besar mata kuliah berbasis proyek. Diharapkan lulusannya memiliki kompetensi dan siap bekerja di dunia Industri kreatif. (sur)Sumber18 January 2025
Baca Selengkapnya
IMDE dan Emerson Col...
02 Apr 2026
Jakarta - Sebuah langkah strategis dilakukan oleh IMDE (Institut Media Digital Emtek) dalam memajukan pendidikan tinggi di bidang industri kreatif.Dalam pertemuan yang berlangsung di Ansin Building, Boston, pada Kamis (16/1/2025), rektor IMDE, Totok Amin Soefijanto, bertemu dengan Presiden Emerson College, Jay Bernhardt, untuk membahas potensi kolaborasi internasional yang dapat memperkuat sektor kreatif global.Menurut Totok, IMDE juga ingin menjadi sumber tenaga profesional yang mengisi semua bidang entertainment, pengusaha digital, produsen film dan program televisi, pencipta konten, artis berbakat yang terdidik dengan proses kuliah yang bermutu dan terencana baik."Kami ingin sekali karya-karya anak bangsa bisa menyamai karya dari Korea, dan itu butuh kerja keras," ucap Totok.Emerson College, yang memiliki kampus di Boston, Hollywood, dan Belanda, dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan terkemuka di bidang seni, komunikasi, dan industri kreatif.Banyak alumninya yang sukses menorehkan prestasi di industri hiburan, seperti Wachowski Brothers (pencipta sekuel The Matrix) dan Wishnutama Kusubandio (pendiri NET TV dan mantan Menparekraf Indonesia).Jay Bernhardt mengungkapkan bahwa pihaknya berencana untuk memperluas jaringan pendidikan mereka ke Asia."Kemajuan industri kreatif ini tentu membutuhkan banyak tenaga profesional yang terdidik dengan baik dan berbakat," kata Jay.Krisis Iklim dan Peran Industri KreatifPembicaraan tak hanya berhenti pada industri kreatif. Jay juga menyoroti krisis iklim yang semakin mendesak, yang kerap dianggap masih samar-samar oleh masyarakat.Ia pun mengapresiasi langkah-langkah yang telah diambil oleh Emerson College di Belanda, yang lebih maju dalam hal strategi penanggulangan krisis iklim."Eropa lebih maju dalam strategi mengatasi krisis iklim ini," sambung Jay.Membangun Masa Depan yang BerkelanjutanSebagai bagian dari kesepakatan kerjasama, IMDE dan Emerson College sepakat untuk menggabungkan kekuatan mereka dalam menggunakan seni dan komunikasi untuk meningkatkan kesadaran global terhadap krisis iklim."Karya-karya seni yang kreatif dapat menyadarkan masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah dalam menghadapi berbagai krisis besar yang dihadapi umat manusia di masa depan," tutup Totok.https://www.liputan6.com/citizen6/read/5885190/imde-dan-emerson-college-kolaborasi-tingkatkan-pendidikan-industri-kreatif?utm_source=Mobile&utm_medium=whatsapp&utm_campaign=Share_Top&page=318 Jan 2025
Baca Selengkapnya
Bertemu dengan Profe...
02 Apr 2026
Cambridge Profesor Claude Bruderlein menyarankan kita semua mempelajari AI. Dia pun menyatakan, "Jadikan AI alat untuk membantu kita menyelesaikan pekerjaan, tetapi jangan terlalu tergantung padanya," kata profesor dari Harvard Kennedy School of Government tersebut saat bertemu rektor IMDE Totok Amin Soefijanto pada Rabu malam (15/1) di Cambridge, AS.Menurutnya, penggunaan AI harus dimulai seperti saat kita dulu menggunakan teknologi-teknologi sebelumnya, seperti telepon dan lainnya. Menurut pengamatannya, kelompok iptek akan menyambut AI dengan antusias, sedangkan kelompok ilmu sosial dan hukum akan sangat kritis.Namun, ujungnya nanti tetap yang menguasai AI yang akan mendapatkan keunggulan. "Negara yang menguasai AI akan lebih baik daripada negara yang tidak memahami AI," katanya. Bukan berarti AI akan mengalahkan manusia, tetapi menurut dosen mata kuliah Negosiasi Garis Depan dan AI di Harvard ini, penguasaan AI justru dimulai dari pemahaman kita atas keterbatasan AI.Claude Bruderlein mencontohkan krisis dan perubahan iklim saat ini yang memerlukan perhatian Indonesia, karena banyak masalah tetapi dalam waktu bersamaan juga banyak peluang untuk berperan secara global. AI dapat membantu mempercepat proses pemahaman masalah, sedangkan kita sebagai ahlinya dapat meneruskan pemahaman tadi ke dalam aksi nyata dan kebijakan yang tepat sasaran.Bagi perusahaan, buat apa menggaji karyawan kalau AI dapat mengerjakannya dengan lebih cepat dan lebih baik. Makanya, menurut Claude, manusia perlu menjaga kapasitas dan daya pikirnya agar tidak "terserap" dan tergantung kepada AI."Pelajari keterbatasan AI, agar kita memahami apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan AI," kata Claude yang pernah beberapa kali memberikan pelatihan perundingan di wilayah konflik di Indonesia itu.Claude Bruderlein akan membahas peran AI dalam pendidikan di IMDE nanti. "Tantangan Indonesia ke depan adalah membuat anak didik tetap berfikir kritis dan kreatif, agar tidak terlalu bergantung kepada AI atau teknologi apapun," kata Totok.Claude Bruderlein dan Urusan KemanusiaanProf. Claude Bruderlein adalah Dosen Kesehatan Global di Harvard T. Chan School of Public Health dan Peneliti Senior di Harvard Humanitarian Initiative. Ia juga memegang jabatan kedua di Harvard Kennedy School of Government, di mana ia mengajar perencanaan strategis dan negosiasi garis depan. Dalam penelitiannya, Bruderlein berfokus khususnya pada pelaksanaan negosiasi di lingkungan yang kompleks dan tidak bersahabat.Dia menjabat sebagai Penasihat Strategis Presiden Komite Palang Merah Internasional (ICRC) di Jenewa, dengan fokus pada hubungan strategis, komunitas praktik, dan pengembangan kelembagaan. Ia juga mendirikan Pusat Kompetensi Negosiasi Kemanusiaan (CCHN), yang merupakan upaya bersama ICRC, Program Pangan Dunia (WFP), Komisaris Tinggi untuk Pengungsi (UNHCR), dan Médecins-Sans-Frontières. Pada tahun 2010, ia ikut mendirikan Asosiasi Profesional Internasional dalam Bantuan dan Perlindungan Kemanusiaan dan menjabat sebagai Presiden Dewan yang pertama hingga tahun 2012.Sebelum bergabung dengan Universitas Harvard, Prof Bruderlein menjabat sebagai Penasihat Khusus Urusan Kemanusiaan pada Sekretaris Jenderal PBB, dengan fokus khusus pada isu-isu yang berkaitan dengan negosiasi akses kemanusiaan dan penargetan sanksi. Dia bekerja pada negosiasi akses di Afghanistan dan Korea Utara. Ia juga menjabat sebagai ahli independen di Dewan Keamanan PBB mengenai dampak kemanusiaan dari sanksi di Sudan, Burundi, dan Sierra Leone.Pernah bekerja dengan Palang Merah InternasionalSebelumnya pernah bekerja dengan Komite Palang Merah Internasional (ICRC) sebagai delegasi lapangan di Iran, Israel dan Wilayah Pendudukan, Arab Saudi, Kuwait, dan Yaman. Selama Musim Dingin 2023, Claude Bruderlein mengajar di Lab Negosiasi Garis Depan intensif selama tiga minggu yang melakukan tinjauan kritis terhadap respons kemanusiaan terhadap krisis Ukraina di Eropa (GHP 543/ IGA 353M). Kursus ini secara khusus membahas praktik negosiasi di antara lembaga-lembaga kemanusiaan yang menangani arus migran di Eropa.Sebagai kursus pembelajaran berdasarkan pengalaman, kursus ini memberikan peserta perspektif langsung mengenai manajemen krisis dan negosiasi dari para profesional yang bekerja di garis depan krisis migrasi. Desain kursus juga mendapat manfaat dari dukungan dan kolaborasi Pusat Kompetensi tentang Negosiasi Kemanusiaan.Sejak tahun 2008, Kursus Studi Lapangan Musim Dingin mengeksplorasi topik-topik termasuk dampak pendudukan militer terhadap pemuda Tepi Barat, hubungan antara kemiskinan dan konflik di Nepal, peran perempuan dalam transformasi konflik di Indonesia, gender dan hak asasi manusia di New Delhi, respons internasional hingga krisis pengungsi Suriah di Yordania, kesejahteraan pengungsi Suriah di Yordania, dampak krisis sosial dan keuangan terhadap akses kesehatan di Lebanon.Prof Bruderlein mengajar kursus Musim Semi tentang “Melakukan Negosiasi di Garis Depan” (MLD 234) yang terdaftar di Harvard School of Public Health (GHP 243) di mana peserta dihadapkan pada praktik negosiasi garis depan dalam berbagai situasi kerusuhan sosial.https://www.liputan6.com/citizen6/read/5883975/bertemu-dengan-profesor-claude-bruderlein-rektor-imde-totok-amin-soefijanto-bahas-penggunaan-ai?page=316 Jan 2025
Baca Selengkapnya
Kolaborasi Strategis...
02 Apr 2026
Jakarta Senin (16/12/2024), Institut Media Digital dan Enterpreneurship (IMDE) menggandeng Alibaba Cloud Indonesia untuk menyelenggarakan MoU Ceremony & Seminar bertajuk “Advancing Digital Technology, Certification and Unlocking the Future of Cloud Computing and AI in Content Creation”.Acara ini berlangsung di Gedung Serbaguna, Emtek City, Jakarta Barat, dan menjadi momen penting dalam komitmen IMDE sebagai lembaga pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi di era digital.Dalam sambutannya, Wakil Rektor Akademik IMDE, Ciptono Setyobudi, menyampaikan apresiasinya terhadap kerja sama strategis ini. “Seminar ini dapat memberikan manfaat besar bagi mahasiswa, baik dari segi wawasan praktis, inspirasi inovasi, hingga peluang membantu jaringan internasional,” ujarnya.Ciptono menambahkan bahwa penandatanganan MoU ini menjadi langkah nyata IMDE untuk menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan teknologi, khususnya teknologi canggih dan kecerdasan buatan. “Kolaborasi ini adalah bukti komitmen kami untuk mencetak talenta digital yang siap menghadapi revolusi industri 4.0,” tutupnya.Sementara itu, Erwin Marpaung, Government Relations Alibaba Cloud Indonesia, menekankan bahwa kolaborasi ini adalah peluang langka. “Alibaba Cloud jarang bermitra dengan lembaga akademik, dan ini menunjukkan IMDE sebagai institusi yang adaptif dan mendorong penguasaan teknologi digital,” jelas Erwin.Program ini, menurutnya, tidak hanya membekali mahasiswa dengan wawasan praktis, tetapi juga peluang sertifikasi sebagai nilai tambah di dunia kerja.“Semua mahasiswa, dari jurusan apapun, bisa memanfaatkan kesempatan ini. Mari melek digital dan bersama-sama membangun masa depan lebih baik,” tambah Erwin.Menghadapi Tantangan AI: Adaptif, Kreatif, dan KompetitifHendy Halim, Business Development Alibaba Cloud Indonesia, menyoroti pentingnya kemampuan adaptif di era AI. Menurutnya, kemajuan kecerdasan buatan memang berdampak pada penggantian beberapa pekerjaan, sehingga manusia dituntut lebih kreatif dan kompetitif.“Pintar saja tidak cukup. Skill seperti komunikasi, teamwork, public speaking, dan self-management sangat penting, terutama di bidang teknologi informasi,” ujar Hendy. Ia mengingatkan bahwa AI hanya alat bantu, sementara kemampuan manusia dalam menaikkan value melalui pembelajaran berkelanjutan adalah kunci menghadapi tantangan industri.AI: Alat Bantu yang Tak Bisa Gantikan Peran ManusiaKetua Program Studi D4 Produksi Media IMDE, Teguh Setiawan, menyatakan bahwa AI adalah mitra bagi manusia dalam berkarya, bukan pengganti. “AI tidak dapat menggantikan manusia, tetapi manusia yang tidak mampu menggunakan AI akan tergantikan,” tegasnya.Teguh mengakui bahwa industri kreatif, seperti pembuatan konten video, sering menghadapi kendala seperti ide, waktu produksi, dan kebutuhan tim yang besar. “AI hadir sebagai solusi untuk efisiensi waktu, biaya, hingga proses produksi. Dari storyboarding hingga pengeditan otomatis, AI mempercepat pekerjaan tanpa mengurangi kualitas kreativitas,” tambahnya.Ia menutup sesinya dengan ajakan inspiratif, “AI adalah kreativitas tanpa batas. Mari gunakan teknologi ini untuk mewujudkan ide-ide besar kita.”Menghubungkan Akademisi dengan Kebutuhan IndustriBayu Irawan, Training Specialist Alibaba Cloud Indonesia, menjelaskan peran Alibaba Cloud Academy dalam menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan industri. “Ilmu dari bangku kuliah belum cukup jika tidak diadaptasikan dengan realita industri. Melalui program ini, perspektif akademik bisa dilihat dari kacamata praktisi,” ujarnya.Alibaba Cloud Academy hadir dengan berbagai program pelatihan dan sertifikasi, membantu mahasiswa memperoleh keterampilan dan pengalaman praktis yang relevan. Program ini menjadi langkah strategis untuk mempersiapkan generasi muda yang siap bersaing di era teknologi digital dan AI.https://www.liputan6.com/citizen6/read/5839586/kolaborasi-strategis-imde-dan-alibaba-cloud-langkah-besar-menuju-era-ai-dan-digitalisasi?page=417 Des 2024
Baca Selengkapnya