Bertemu dengan Profesor Claude Bruderlein, Rektor IMDE Totok Amin Soefijanto Bahas Penggunaan AI

02 April 2026 • Oleh Institut Media Digital Emtek

Cambridge Profesor Claude Bruderlein menyarankan kita semua mempelajari AI. Dia pun menyatakan, "Jadikan AI alat untuk membantu kita menyelesaikan pekerjaan, tetapi jangan terlalu tergantung padanya," kata profesor dari Harvard Kennedy School of Government tersebut saat bertemu rektor IMDE Totok Amin Soefijanto pada Rabu malam (15/1) di Cambridge, AS.

Menurutnya, penggunaan AI harus dimulai seperti saat kita dulu menggunakan teknologi-teknologi sebelumnya, seperti telepon dan lainnya. Menurut pengamatannya, kelompok iptek akan menyambut AI dengan antusias, sedangkan kelompok ilmu sosial dan hukum akan sangat kritis.

Namun, ujungnya nanti tetap yang menguasai AI yang akan mendapatkan keunggulan. "Negara yang menguasai AI akan lebih baik daripada negara yang tidak memahami AI," katanya. Bukan berarti AI akan mengalahkan manusia, tetapi menurut dosen mata kuliah Negosiasi Garis Depan dan AI di Harvard ini, penguasaan AI justru dimulai dari pemahaman kita atas keterbatasan AI.

Claude Bruderlein mencontohkan krisis dan perubahan iklim saat ini yang memerlukan perhatian Indonesia, karena banyak masalah tetapi dalam waktu bersamaan juga banyak peluang untuk berperan secara global. AI dapat membantu mempercepat proses pemahaman masalah, sedangkan kita sebagai ahlinya dapat meneruskan pemahaman tadi ke dalam aksi nyata dan kebijakan yang tepat sasaran.

Bagi perusahaan, buat apa menggaji karyawan kalau AI dapat mengerjakannya dengan lebih cepat dan lebih baik. Makanya, menurut Claude, manusia perlu menjaga kapasitas dan daya pikirnya agar tidak "terserap" dan tergantung kepada AI.

"Pelajari keterbatasan AI, agar kita memahami apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan AI," kata Claude yang pernah beberapa kali memberikan pelatihan perundingan di wilayah konflik di Indonesia itu.

Claude Bruderlein akan membahas peran AI dalam pendidikan di IMDE nanti. "Tantangan Indonesia ke depan adalah membuat anak didik tetap berfikir kritis dan kreatif, agar tidak terlalu bergantung kepada AI atau teknologi apapun," kata Totok.


Claude Bruderlein dan Urusan Kemanusiaan


Prof. Claude Bruderlein adalah Dosen Kesehatan Global di Harvard T. Chan School of Public Health dan Peneliti Senior di Harvard Humanitarian Initiative. Ia juga memegang jabatan kedua di Harvard Kennedy School of Government, di mana ia mengajar perencanaan strategis dan negosiasi garis depan. Dalam penelitiannya, Bruderlein berfokus khususnya pada pelaksanaan negosiasi di lingkungan yang kompleks dan tidak bersahabat.

Dia menjabat sebagai Penasihat Strategis Presiden Komite Palang Merah Internasional (ICRC) di Jenewa, dengan fokus pada hubungan strategis, komunitas praktik, dan pengembangan kelembagaan. Ia juga mendirikan Pusat Kompetensi Negosiasi Kemanusiaan (CCHN), yang merupakan upaya bersama ICRC, Program Pangan Dunia (WFP), Komisaris Tinggi untuk Pengungsi (UNHCR), dan Médecins-Sans-Frontières. Pada tahun 2010, ia ikut mendirikan Asosiasi Profesional Internasional dalam Bantuan dan Perlindungan Kemanusiaan dan menjabat sebagai Presiden Dewan yang pertama hingga tahun 2012.

Sebelum bergabung dengan Universitas Harvard, Prof Bruderlein menjabat sebagai Penasihat Khusus Urusan Kemanusiaan pada Sekretaris Jenderal PBB, dengan fokus khusus pada isu-isu yang berkaitan dengan negosiasi akses kemanusiaan dan penargetan sanksi. Dia bekerja pada negosiasi akses di Afghanistan dan Korea Utara. Ia juga menjabat sebagai ahli independen di Dewan Keamanan PBB mengenai dampak kemanusiaan dari sanksi di Sudan, Burundi, dan Sierra Leone.


Pernah bekerja dengan Palang Merah Internasional


Sebelumnya pernah bekerja dengan Komite Palang Merah Internasional (ICRC) sebagai delegasi lapangan di Iran, Israel dan Wilayah Pendudukan, Arab Saudi, Kuwait, dan Yaman. Selama Musim Dingin 2023, Claude Bruderlein mengajar di Lab Negosiasi Garis Depan intensif selama tiga minggu yang melakukan tinjauan kritis terhadap respons kemanusiaan terhadap krisis Ukraina di Eropa (GHP 543/ IGA 353M). Kursus ini secara khusus membahas praktik negosiasi di antara lembaga-lembaga kemanusiaan yang menangani arus migran di Eropa.

Sebagai kursus pembelajaran berdasarkan pengalaman, kursus ini memberikan peserta perspektif langsung mengenai manajemen krisis dan negosiasi dari para profesional yang bekerja di garis depan krisis migrasi. Desain kursus juga mendapat manfaat dari dukungan dan kolaborasi Pusat Kompetensi tentang Negosiasi Kemanusiaan.

Sejak tahun 2008, Kursus Studi Lapangan Musim Dingin mengeksplorasi topik-topik termasuk dampak pendudukan militer terhadap pemuda Tepi Barat, hubungan antara kemiskinan dan konflik di Nepal, peran perempuan dalam transformasi konflik di Indonesia, gender dan hak asasi manusia di New Delhi, respons internasional hingga krisis pengungsi Suriah di Yordania, kesejahteraan pengungsi Suriah di Yordania, dampak krisis sosial dan keuangan terhadap akses kesehatan di Lebanon.

Prof Bruderlein mengajar kursus Musim Semi tentang “Melakukan Negosiasi di Garis Depan” (MLD 234) yang terdaftar di Harvard School of Public Health (GHP 243) di mana peserta dihadapkan pada praktik negosiasi garis depan dalam berbagai situasi kerusuhan sosial.


https://www.liputan6.com/citizen6/read/5883975/bertemu-dengan-profesor-claude-bruderlein-rektor-imde-totok-amin-soefijanto-bahas-penggunaan-ai?page=3


16 Jan 2025

Artikel Lainya

Baca tips dan berita seputar perkuliahan untuk mendukung persiapan kuliahmu

article
IMDE Gandeng EMC Hea...
02 Apr 2026
Jakarta - Institut Media Digital Emtek (IMDE) secara resmi memperkuat fasilitas layanan mahasiswanya dengan meresmikan Unit Kesehatan Kampus baru yang bekerja sama dengan EMC Healthcare, jaringan rumah sakit terkemuka tanah air yang tercatat di bursa dengan kode saham SAME.Peresmian yang dilakukan pada Rabu (04/2026), merupakan bagian dari komitmen IMDE dalam menciptakan ekosistem belajar yang holistik. Rektor IMDE Totok Amin Soefijanto menekankan bahwa kesehatan adalah fondasi utama bagi mahasiswa untuk mencapai prestasi akademik dan inovasi yang optimal."Kami menyadari bahwa produktivitas intelektual harus didukung oleh kebugaran fisik yang prima. Melalui kolaborasi dengan EMC Healthcare, kami membawa standar layanan kesehatan rumah sakit papan atas langsung ke dalam lingkungan kampus," ujarnya dalam sambutannya.Totok menambahkan, mengutip tokoh kedokteran Sir William Osler, bahwa fokus utama klinik ini adalah "merawat manusia secara utuh," bukan sekadar mengobati gejala. Sinergi ini diharapkan dapat mengurangi hambatan kesehatan yang sering dihadapi mahasiswa di tengah padatnya jadwal perkuliahan.Klinik ini akan menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan dasar, penanganan darurat pertama, serta program konsultasi kesehatan bagi seluruh civitas akademika. Dukungan dari EMC Healthcare (SAME) memastikan bahwa setiap tenaga medis dan protokol yang dijalankan di klinik ini memiliki standar kualitas yang telah diakui secara nasional dan publik.Sebelum seremoni peresmian, dua mahasiswa IMDE tampil menghibur hadirin yakni pembacaan puisi oleh berjudul ”Perantara” oleh Dafa, dan tarian kreasi ”Tari Kembang Siantar” oleh Sabrina yakni. Hadirin pun terpukau dan memberikan aplaus.Satu VisiSementara itu, CEO PT Kedoya Adyaraya (RS EMC Grha Kedoya), dr. Yuniwati mewakili Tim EMC dalam sambutannya mengatakan bahwa Rumah Sakit EMC Healthcare dan IMDE merupakan dua entitas yang berbeda secara fungsi, tetapi satu dalam visi yakni membangun manusia Indonesia yang sehat dan cerdas."Selama ini, kita mungkin telahbersinggungan dalam berabagai kolaborasi infrmal, kini, melalui moment ini kita resmikan ikatan itu dalam bentuk yang lebih konkret, lebih terasa manfaatnya,” ujar dr. Yuniwati.Lebih jauh dikatakan, sebagai sebuah rumah sakit yang memberikan pelayanan, EMC memahami bahwa akses terhadap kesehatan yang baik tidak boleh menjadi privilege, justru harus terbuka bagi setiap insan manusia.”Unit kesehatan kampus ini sederhana, tidak megah. Tetapi kami harap kehadirannya adalah jawaban atas kebutuhan dasar akan pelayanan ditingkat pertama bagi tenaga pendidik, mahasiswa, dan staf dari IMDE,” pungkas dr. Yuniwati.Hadir dari tim EMC Healthcare dalam acara peresmian klinik di lantai 3 Gedung Kampus IMDE selaian dr. Yuniwati adalah Medical Director EMC Healthcare dr. Meta, Hospital Director RS EMC Grha Kedoya dr. Hendry, Head Corporate EMC Healthcare Nia, Head of Medical RS EMC Grha Kedoya dr. Prisca, Head of Ancillary RS EMC Grha Kedoya dr. Virgin, Head of Medical RS EMC Tangerang dr. Edward, dan Corporate EMC Healthcare Fitri.Dari pihak IMDE, selaian Rektor hadir Wakil Rektor Bidag Akademik Dr. Ratih Damayanti, Wakil Rektor Bidang Non-Akademik Dr. Rhewindinar, para dosen, dan tenaga kependidikan. Sementara salah satu Duta Mahasiswa Bidang Bisnis Digital IMDE Keisya Shakila yang saat ini duduk di semester II berpendapat, adanya ruangan Unit Kesehatan Kampus merupakan hal yang bagus sekali.Jadi, bila ada mahasiswa ataupun dosen yang sakit, untuk sementara bisa meminum obat dan beristirahat di situ. ”Termasuk saya, sebelumnya saat saya sakit asam lambung, saya bingung mencari tempat untuk istirahat, kahirnya saya cari ruang kelas yang kosong,” katanya.Diketahui, Institusi Media dan Digital Ekonomi (IMDE) adalah lembaga pendidikan tinggi yang berfokus pada pengembangan talenta di bidang ekonomi kreatif, teknologi, dan media digital. Sementara EMC Healthcare (SAME) adalah jaringan rumah sakit swasta di Indonesia yang berkomitmen memberikan layanan kesehatan komprehensif.https://www.liputan6.com/citizen6/read/6291746/imde-gandeng-emc-healthcare-resmikan-klinik-kampus-tingkatkan-kesehatan-civitas-academica5 Maret 2026
Baca Selengkapnya
article
IMDE Gelar Pelatihan...
02 Apr 2026
Jakarta - Institut Media Digital Emtek (IMDE) sebagai institusi perguruan tinggi yang fokus pada media, digital, broadcasting, bisnis digital, dan entertaint punya perhatian serius untuk membukukan karyatulis para dosen dalam bidang-bidang tersebut. Dua buku terkait hal ini telah terbit dan menjadi bacaan publik yang menarik. Selanjutnya dalam tahun ini, IMDE berencana mengumpulkan karya para dosen dan tendik untuk dibukukan, namun dengan tema agak lain dan masih berhubungan dengan proses kreatif dan entertaint yakni fiksi, khususnya cerita pendek atau cerpen.Karena tidak mudah bagi dosen dan tendik untuk menulis cerpen, maka kampus memfasilitasi dengan memberikan pelatihan menulis cerpen dengan mengundang sastrawan-cerpenis terkemuka, Kurnia Effendi. Acara pelatihan ini dilaksanakan secara onsite dan live streaming di Tiktok dan kanal Youtube di kampus IMDE, Jakarta, Jumat (20/02/2026).Kurnia Effendi yang sudah malang-melintang di dunia sastra selama 40 tahun terakhir, mengaku senang dan menjadi tantangan tersendiri berbicara soal proses penulisan cerpen di hadapan para dosen dan tendik IMDE. Sebelum memberikan matero penulisan cerpen, sastrawan yang akrab disapa KEF ini bercerita tentang proses penulisan sejak kuliah di jurusan Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, serta perjalanan kreatifnya menulis, termasuk lahirnya fiksi “Pangeran dari Timur” lalu menjadi juri berbagai lomba penulisan, dan kegiatannya saat ini.Rektor IMDE, Totok Amin Soefijanto yangmembuka pelatihan ini mengatakan sebagai dosen dan pendidik, kita harus memiliki keseimbangan daya pikir otak kiri dan otak kanan. Apalagi buat dosen dan tendik di IMDE, harus bagus di angka, tapi juga jago dalam kreativitas. Pelatihan penulisan cerpen ini untuk menyiapkan dosen dan tendik IMDE mulai menulis fiksi yang merangsang imajinasi.“Kami semua akan menulis cerpen yang nantinya dijadikan buku karya civitas academica IMDE. Insya Allah, akan diluncurkan bareng buku kumpulan cerpen mahasiswa di Dies Natalis ke-28 nanti,” ucap Totok semangat.Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademis IMDE, Ratih Damayanti mengatakan, sebagai pendidik, kepekaan kepada diri sendiri, lingkungan sosial perlu diasah. Hal ini akan membuat kita bisa menjadi pendamping mahasiswa yg tidak hanya mendidik namun memahami apa yg sedang terjadi dan dirasakan.Salah satu bentuk kepekaan yang perlu dikembangkan adalah kemampuan merasakan kondisi dan keadaan diri sendiri dan orang lain dan mengejawantahkannya dalam sebuah tulisan fiksi seperti mini caption refleksi , puisi bahkan dapat menjadi ide sebuah cerpen.“Pengalaman menuliskan apa yang kita rasa, apa yang kita pikirkan atau menceritakan kembali sebuah kisah yang inspiratif adalah wujud storytelling yang tersusun dalam sebuah cerpen atau fiksi. Dari kepekaan itu maka lahirlah karya karya indah yg dapat dinikmati oleh banyak orang,” katanya.Lebih lanjut dikatakan Ratih, menulis cerpen bukan soal mencari tema besar, melainkan kepekaan membaca detail kecil kehidupan dan kejujuran pada suara hati penulis. Cerpen yang kuat lahir dari disiplin membaca, berani menciptakan daya tarik konflik dan kemampuan mengolah rasa menjadi cerita yg selesai dan meninggalkan kesan bagi pembaca.Opening dan EndingKurnia Effendi menekankan, untuk memikat pembaca, cerpen harus dibuka dengan paragraf yang menarik, mengundang rasa penasaran. Biasanya memanfaatkan konflik yang didukung kilas balik. Untuk mengakhiri cerpen agar berkesan, berikan ruang imajinasi bagi pembaca. Sedangkan pada bagian akhir, disarankan hindari keputusan atau kesimpulan dari pengarangnya. Hal ini berbeda dengan karya ilmiah yang memerlukan penjelasan yang rigit terkait uraian-uraian sebelumnya.Setelah pembukaan dan akhir cerita, Kurnia Effendi memberikan berbagai tips menulis cerpen yang baik dalam arti membetot perhatian pembaca hingga akhir. Karena itu sejumlah langkah diperlukan untuk menunaikan gagasan dalam bentuk tulisan cerpen. Yang pertama dan utama tentunya banyak membaca, melihat-mengamati, mendengar, diskusi dengan banyak kalangan, dan mulailah menuis dengan ide yang diperoleh itu. Sebagai alat bantu, lanjut Kurnia Effendi, gunakan premis sebagai tumpuan pengembangan cerita.“Sebelum gagasan lenyap, catat kata-kata kunci, akan lebih baik dengan membuat sinopsis atau kerangka karangan,” katanya. sambil menambahkan untuk menulis novel, sinopsis dan linimasa cerita “wajib” dibuat untuk menghindari anakronisme dan plot holeUnsur-Unsur CerpenBerbeda dengan karya ilmiah, selain tema/topik, menulis cerpen membutuhkan antara lain:- Plot dan alur- Tokoh/Karakter- Latar (waktu dan tempat)- Konflik dan dramatisasi- Teknik (POV, kilas balik, telling dan showing, gaya bahasa).Yang dimaksud plot adalah adegan atau bagian dari cerita yang berisi motif tokoh, latar, dan waktu. Dalam film atau drama kerap disebut sebagai scene plot. Alur adalah gerakanantar-plot yang membuat cerita mengalir: linier, maju dan mundur, zigzag, atau “paralel”.“Plot membeku tanpa alur, alur tak berfungsi tanpa plot,” ujar Kurnia Effendi.https://www.liputan6.com/citizen6/read/6283146/imde-gelar-pelatihan-menulis-cerpen-undang-sastrawan-kurnia-effendi21 Februari 2026
Baca Selengkapnya
Menu
Profil
Riwayat